Saturday, October 23, 2010

renungan kamar

SUDUT PANDANG PERTAMA


ketika sesuatu terjadi tidak sesuai keinginan kita.

ketika sesuatu menjadi tak semestinya.

ketika seseorang yang kita sayangi tiba-tiba mengacuhkan kita begitu saja.

ketika kita mulai berubah haluan.

ketika kita mulai bimbang.

ketika nafsu berubah menjadi penyesalan.

apa yang dirasa sebagai petualangan hanyalah pepesan kosong belaka sekarang.

ketika kita berpikir dua, tiga, kali bahkan beratus-ratus kali tentang perbuatan kita, salah-benarnya.

datang seseorang yang salah paham akan keadaan kita.

kita manfaatkan ia.

dan setelah itu semua berakhir, kita seakan2 tidak membutuhkan apa-apa dari ia.

jahat. salah tingkah.



SUDUT PANDANG KEDUA


ketika memandang bingung mengenai seseorang.

ketika kita sedang kosong.

ketika kita sebenarnya mengetahui apa yang terjadi.

ketika kita tidak tahu di balik sifat seseorang.

ketika kita menjadi salah paham akan hal itu.

apa yang dirasa sebagai kemenangan, sekarang hanyalah omong kosong.

ketika kita datang dan memberikan diri kita, menjual diri kita, melacurkan kasih sayang dengan cuma-cuma,

dan kita menyesal.

dan ia meninggalkan kita seakan-akan ia tidak butuh apa-apa dari kita.

dan ia pun mengakui, bahwa ia,

jahat, dan salah tingkah.


Thursday, September 16, 2010

postulat hati

Jakarta, 16 September 2010

Time can mend and heal slowly.

Seiring waktu, segala apapun yang namanya sakit hati akan bisa sembuh. Mungkin ini obat yang paling mujarab untuk sakit hati. Namun timbul sebuah prasyarat bahwa sebelum ia bisa sembuh---meski tidak total---si korban harus terlebih dahulu merasakan sebuah goncangan yang kira-kira bisa memutarbalikkan persepsinya sebesar 180 derajat. Mau itu ke kiri atau ke kanan.

Empunya hati tersebut juga harus bisa melepaskan dan memaafkan, sebelum hati itu bisa sembuh kembali. Tidak ada yang mudah kalau urusannya adalah masalah hati. Namun, kembali kepada orang-orang yang menjalaninya.

"Hati" itu sendiri adalah sebuah konsep abstrak dari perasaan manusia, ia sesuatu yang tidak lahiriah, dapat dirasakan oleh masing-masing insan, namun ia tidak berhembus bagai angin; ia harus diutarakan terlebih dahulu sebelum dirasakan. Apabila ia tidak dirasakan maka yang muncul hanya prasangka semata yang terkadang dapat menipu.

Langit memang punya cara misterius bagi masing-masing kita untuk memandang hidup, menjalani hidup dan menghadapi hidup.

Friday, September 3, 2010

On Holiday!!

Ah gile. Udah liburan. Jadi bingung mau ngapain.

Kalo udah bisa nyetir sih tinggal kemanaaa gitu kan, ngajak siapa, trus kita membolang bersama. Ujung-ujungnya naik tol ke Bandung dan yak....gw jauh dari peradaban rumah dan sampai di rumah gw akan dibantai.

Apa ke PIM? Sency?Ooh! Ooh! Gandaria City! Kaga lah yau, bosen.

Hmm....toko musik! Kita coba gitaaaaar! ada banyak bass loh! Hobi gw yang satu ini jadi guilty pleasure, Entah kenapa. Gara-gara udah mau lulus dan musti belajar dan...AAAH! Rempong. Pusing mikirnya coy. Bosen pula.

Hambatan gw satu! Transportasi! Sejujurnya, gw gatau trayek-trayek bus kota. Palingan cuman 74...72...s10...d01....karena hidup gw ga jauh2 dari situ.

Mau makan? Lagi puasa. Kalo ga puasa pasti ada kerjaan. Minimal ngemil. Uuuh udah kayak apaan aja tuh hidup gw, OL + ngemil + gelas air putih = surga dunia; at least dalam pengertian yang paling sempit dan gak meaning. Paling sempit loh.(serem juga kalo hidup lo cuman gini2 doang)

Belajar! Hmmmm....maybe later.

Buset. What's left to do? Kayaknya beneran gak ngapa-ngapain. Lo bakal menyadari kalo pada akhirnya kita hidup....sendirian.